Dawuh Gus Kautsar tentang Mengikhlaskan Takdir

sumber : dawuh guru
“Kalau itu memang sudah menjadi takdir kita, gak perlu kamu WA, gak perlu kamu temukan di IG akunnya, pasti dia akan datang untuk mendampingi kamu.”
Gus Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar – Ploso Kediri

Takdir, dalam pandangan Islam, adalah bagian integral dari keimanan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Ayat ini mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sudah ditentukan oleh Allah. Ketika kita menerima takdir dengan ikhlas, kita tidak akan terlalu bersedih atas apa yang hilang, atau terlalu berlebihan dalam kegembiraan atas apa yang kita peroleh. Dalam konteks hubungan manusia, keyakinan ini memberi kita ketenangan hati bahwa jika seseorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang pada waktu yang tepat.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan media sosial, seringkali kita merasa perlu untuk mengendalikan atau mengejar sesuatu dengan lebih agresif. Namun, keyakinan akan takdir mengajarkan kita bahwa terkadang, yang terbaik adalah menunggu dengan sabar dan memfokuskan energi kita pada pengembangan diri. Bung Karno, tokoh nasional Indonesia, pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Dalam konteks ini, perjuangan untuk menerima dan mengikhlaskan takdir juga merupakan bentuk perjuangan internal yang tidak kalah berat.

Penerimaan takdir bukan berarti pasif dan tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, itu berarti kita melakukan yang terbaik dengan segala upaya, tetapi juga mengakui bahwa hasil akhirnya adalah milik Allah. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, jangan katakan: ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan,’ karena kata ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Ketika kita menerima bahwa takdir sudah ditentukan, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh keyakinan. Ini bukan berarti kita berhenti berusaha atau berhenti berharap, tetapi kita meletakkan usaha dan harapan kita dalam kerangka penerimaan takdir yang lebih besar. Dalam hal hubungan, misalnya, jika seseorang memang ditakdirkan untuk bersama kita, dia akan datang tanpa perlu kita kejar dengan putus asa.

Memahami dan menerima takdir juga memberikan kita kebebasan dari rasa cemas yang berlebihan. Ketika kita terlalu fokus pada upaya mengejar sesuatu yang mungkin belum tentu baik untuk kita, kita bisa terjebak dalam lingkaran kecemasan dan ketidakpastian. Sebaliknya, ketika kita meyakini bahwa yang terbaik akan datang pada waktunya, kita bisa menjalani hidup dengan lebih damai dan produktif.

Kunci untuk mencapai keadaan ini adalah melalui doa dan tawakal. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini mengajarkan pentingnya bersikap lemah lembut dan tawakal dalam menghadapi kehidupan. Dalam konteks menunggu datangnya seseorang yang ditakdirkan untuk kita, sikap tawakal berarti menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah kita melakukan segala upaya yang wajar.

Mengikhlaskan takdir juga membawa kita pada pemahaman bahwa setiap peristiwa dalam hidup, baik atau buruk, memiliki hikmah yang dapat kita pelajari. Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia, pernah berkata, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Pernyataan ini menggambarkan sikap penerimaan dan pemanfaatan kondisi apapun untuk pertumbuhan pribadi. Demikian pula, dalam menghadapi takdir, kita harus belajar untuk melihat setiap situasi sebagai kesempatan untuk berkembang dan belajar.

Pada akhirnya, hidup dengan menerima dan mengikhlaskan takdir memberikan kita kekuatan dan kedamaian yang luar biasa. Kita tidak lagi terjebak dalam kecemasan tentang apa yang akan terjadi, karena kita yakin bahwa segala sesuatu sudah diatur dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa. Ketika kita melepaskan keinginan untuk mengontrol segala sesuatu dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah, kita menemukan kebebasan dan ketenangan yang sejati.

Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dengan lebih penuh makna, fokus pada usaha kita, dan yakin bahwa yang terbaik akan datang pada waktunya. Sikap ini tidak hanya membuat kita lebih bahagia, tetapi juga lebih siap menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana dan penuh keyakinan.

Rekomendasi