Dawuh Gus Iqdam tentang Perjalanan Menuju Kebahagiaan Sejati

Sumber : Google
“Semua orang pernah nakal. Tapi jangan sampai tidak mencoba taat kepada Allah. Nggak apa-apa dicoba-coba dulu ibadah. Nanti pelan-pelan jadi suka, nyaman. Loh ibadah kok coba-coba? Ya nggak masalah. Wong mabuk itu orang jadi suka awalnya ya karena coba-coba kok.”
Gus Iqdam Muhammad
Setiap manusia memiliki kisah hidup yang penuh liku-liku. Tidak jarang, dalam perjalanan hidupnya, seseorang pernah terjerumus dalam kenakalan atau kesalahan. Namun, seperti halnya kutipan “Semua orang pernah nakal. Tapi jangan sampai tidak mencoba taat kepada Allah. Nggak apa-apa dicoba-coba dulu ibadah. Nanti pelan-pelan jadi suka, nyaman. Loh ibadah kok coba-coba? Ya nggak masalah. Wong mabuk itu orang jadi suka awalnya ya karena coba-coba kok,” mengingatkan kita bahwa mencoba taat kepada Allah dan beribadah, meskipun pada awalnya terasa asing, bisa menjadi awal dari perubahan besar menuju kebaikan.

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” Ayat ini memberikan harapan bagi kita semua bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada jalan ketaatan. Allah selalu membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya bagi mereka yang ingin berubah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa mencoba beribadah dan taat adalah langkah yang sangat penting. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari sifat manusia, namun yang terpenting adalah keinginan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah.

Salah satu contoh nyata dari perjalanan ketaatan adalah Umar bin Khattab, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai seorang yang keras dan menentang ajaran Islam. Namun, setelah masuk Islam, ia menjadi salah satu sahabat yang paling taat dan berpengaruh dalam penyebaran Islam. Perjalanan hidup Umar bin Khattab menunjukkan bahwa seseorang yang pernah berada di jalan yang salah bisa berubah dan menjadi taat, bahkan menjadi contoh bagi orang lain.

Dalam kehidupan modern, ada banyak tokoh yang juga menunjukkan perubahan menuju kebaikan. Malcolm X, seorang aktivis hak asasi manusia di Amerika Serikat, adalah salah satu contohnya. Awalnya, ia terlibat dalam kegiatan kriminal dan hidup di jalanan. Namun, setelah masuk Islam dan mengenal ajaran yang benar, ia berubah menjadi seorang pembela hak asasi manusia yang dihormati. Malcolm X pernah berkata, “I believe in the brotherhood of all men, but I don’t believe in wasting brotherhood on anyone who doesn’t want to practice it with me.” Perjalanan spiritualnya menunjukkan bahwa mencoba beribadah dan taat bisa membawa perubahan besar dalam hidup seseorang.

Mencoba taat dan beribadah mungkin terasa sulit pada awalnya, terutama jika kita belum terbiasa. Namun, seperti halnya seseorang yang mencoba sesuatu yang baru, seperti mabuk, dan akhirnya menjadi suka, demikian pula dengan ibadah. Awalnya mungkin terasa asing dan berat, namun dengan terus mencoba, kita akan merasakan manfaat dan keindahan dari ketaatan tersebut.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengajarkan bahwa setiap perintah dan larangan Allah adalah sesuai dengan kemampuan kita. Oleh karena itu, mencoba beribadah dan taat adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh setiap orang, meskipun harus dimulai dengan langkah kecil dan perlahan-lahan.

Tokoh nasional Indonesia, seperti Buya Hamka, juga mengajarkan pentingnya ketaatan dan ibadah. Buya Hamka pernah berkata, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diisi dengan ketaatan kepada Allah dan perbuatan baik.

Selain itu, mencoba taat dan beribadah juga memberikan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Oprah Winfrey, seorang tokoh media dan filantropis, pernah berkata, “The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate.” Mencoba beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah adalah bentuk syukur dan perayaan atas kehidupan yang kita miliki, yang pada akhirnya akan membawa lebih banyak kebahagiaan dan kedamaian.

Dalam perjalanan mencoba taat dan beribadah, penting untuk mengingat bahwa setiap langkah kecil adalah penting. Seperti yang dikatakan oleh Lao Tzu, seorang filsuf Tiongkok, “A journey of a thousand miles begins with a single step.” Perjalanan menuju ketaatan dan ibadah dimulai dengan satu langkah kecil, dan setiap langkah tersebut membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Dalam Islam, bahkan niat untuk beribadah dan taat memiliki nilai yang besar. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, “Barangsiapa berniat melakukan suatu kebaikan tetapi tidak melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna. Jika ia berniat dan melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa niat baik dan usaha untuk beribadah memiliki nilai yang sangat besar di mata Allah.

Mencoba beribadah dan taat juga mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketekunan. Albert Einstein pernah berkata, “It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer.” Dalam konteks beribadah, ini berarti bahwa ketekunan dan kesabaran dalam mencoba beribadah akan membawa hasil yang baik, meskipun mungkin memerlukan waktu.

Selain itu, dalam mencoba taat dan beribadah, kita juga harus mengingat pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting dalam perjalanan kita menuju ketaatan.

Kesimpulannya, kutipan “Semua orang pernah nakal. Tapi jangan sampai tidak mencoba taat kepada Allah. Nggak apa-apa dicoba-coba dulu ibadah. Nanti pelan-pelan jadi suka, nyaman. Loh ibadah kok coba-coba? Ya nggak masalah. Wong mabuk itu orang jadi suka awalnya ya karena coba-coba kok,” mengandung pesan yang sangat relevan dan menginspirasi. Perjalanan menuju ketaatan dan ibadah mungkin dimulai dengan langkah kecil dan percobaan, namun dengan kesabaran, ketekunan, dan niat yang tulus, kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Melalui ketaatan dan ibadah, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menemukan makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Mari kita terus mencoba, berusaha, dan tidak pernah berhenti berbuat baik, karena setiap langkah kecil dalam ketaatan adalah langkah besar menuju kebahagiaan abadi.

Rekomendasi