Dawuh Gus Iqdam Muhammad : Jadilah Seperti Air Yang Memberi Kehidupan, Tetapi Tetap Rendah Hati

Sumber : Google

Dawuh Gus Iqdam Muhammad : Jadilah seperti air yang memberi kehidupan, tetapi tetap rendah hati di lembah.

“Jadilah seperti air yang memberi kehidupan, tetapi tetap rendah hati di lembah.” Ungkapan ini menggambarkan bagaimana seseorang seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan. Air adalah salah satu elemen terpenting di bumi, memberikan kehidupan dan keberkahan bagi semua makhluk hidup. Namun, meski memiliki peran yang sangat vital, air selalu mengalir ke tempat yang rendah, menunjukkan sifat rendah hati yang luar biasa. Dalam Islam, konsep rendah hati dan memberi manfaat kepada sesama sangat dijunjung tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadits.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain adalah tindakan yang sangat mulia di sisi Allah. Air, dalam hal ini, adalah contoh nyata dari kebajikan dan pemberian manfaat yang tiada henti. Ia menghidupi tanaman, hewan, dan manusia tanpa membedakan, memberikan apa yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadits ini menegaskan bahwa nilai seseorang diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan kepada orang lain. Seperti air yang tak kenal lelah mengalir dan memberikan kehidupan, manusia yang baik adalah mereka yang terus berbuat kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengambil pelajaran dari sifat air yang selalu mencari tempat terendah. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Kebanggaan dan kesombongan tidak akan membawa kita pada kebaikan, melainkan justru menjauhkan kita dari orang lain. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18). Rendah hati adalah kualitas yang sangat dihargai dalam Islam, dan ini sejalan dengan sifat air yang selalu mengalir ke tempat yang rendah.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menghargai orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari mereka. Ketika kita bersikap rendah hati, kita membuka diri untuk belajar dari orang lain dan menerima keberagaman. Mahatma Gandhi pernah berkata, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Dalam pelayanan dan memberi manfaat kepada orang lain, kita menemukan makna sejati dari kehidupan. Rendah hati memungkinkan kita untuk melayani dengan tulus dan ikhlas, seperti air yang terus mengalir tanpa henti.

Air juga mengajarkan kita tentang keteguhan dan kesabaran. Meskipun seringkali menemui hambatan dan rintangan, air selalu menemukan jalannya. Ini adalah pelajaran berharga tentang ketekunan dan kegigihan. Ketika kita menghadapi tantangan dalam hidup, kita harus belajar untuk tetap tenang dan mencari solusi dengan cara yang bijaksana. Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Keteguhan dan ketenangan dalam menghadapi masalah adalah tanda kekuatan sejati, seperti air yang terus mengalir meskipun ada halangan di depan.

Selain itu, air juga menunjukkan betapa pentingnya fleksibilitas dan adaptabilitas. Air bisa mengalir melalui celah sekecil apapun, dan bisa berubah bentuk sesuai dengan wadah yang ditempatinya. Ini mengajarkan kita untuk menjadi fleksibel dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Bruce Lee, seorang ahli seni bela diri, pernah mengatakan, “Be like water making its way through cracks. Do not be assertive, but adjust to the object, and you shall find a way around or through it.” Fleksibilitas dan kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci untuk menghadapi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian.

Dalam Al-Quran, Allah juga mengingatkan kita tentang pentingnya bersikap adil dan tidak berlebihan. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu benar-benar beriman” (QS. Al-A’raf: 85). Air, meskipun sangat bermanfaat, bisa menjadi bencana jika tidak terkendali. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap adil dan tidak berlebihan dalam setiap tindakan kita. Keseimbangan adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan keberkahan.

Dalam konteks sosial, bersikap seperti air berarti kita harus senantiasa memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Kita harus berusaha untuk membantu orang lain dan menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka. Seperti air yang menghidupi bumi, kita harus menjadi sumber kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita. Mother Teresa pernah berkata, “Not all of us can do great things, but we can do small things with great love.” Setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan memiliki dampak besar dalam kehidupan orang lain.

Ketika kita melihat contoh dari tokoh-tokoh dunia dan ajaran agama, kita menyadari bahwa kunci untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah melalui ketulusan dan kerendahan hati dalam berbuat baik. Seperti air yang memberi kehidupan tanpa pamrih, kita juga harus berusaha untuk memberikan yang terbaik dari diri kita kepada orang lain. Dengan bersikap rendah hati, kita menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan saling menghargai.

Dalam Islam, memberi dengan ikhlas adalah salah satu amal yang paling dihargai. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus akan mendatangkan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Ketulusan dan kerendahan hati dalam berbuat baik adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Pada akhirnya, kita harus meneladani sifat air dalam setiap aspek kehidupan kita. Memberi kehidupan dan manfaat kepada orang lain dengan rendah hati, tetap teguh dalam menghadapi rintangan, fleksibel dalam beradaptasi, dan bersikap adil dalam setiap tindakan kita. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan sejati yang tidak hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain di sekitar kita.

Semoga kita selalu diberikan kekuatan untuk berbuat baik dengan tulus dan rendah hati, sehingga kita dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Seperti air yang memberi kehidupan, mari kita berusaha untuk menjadi sumber kebaikan yang tak pernah habis bagi dunia ini.

Rekomendasi