Dawuh Gus Baha’ tentang Menyaksikan Kebesaran Allah

sumber : dawuhguru
“Saksikan reputasi Allah yang selalu memberi kepada hambanya, dengan demikian kita akan penuh rohmat.”
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim
Reputasi Allah sebagai Pemberi yang Maha Pemurah adalah salah satu aspek penting dalam memahami kebesaran dan kasih sayang-Nya. “Saksikan reputasi Allah yang selalu memberi kepada hamba-Nya, dengan demikian kita akan penuh rohmat.” Nasihat ini membawa kita pada perjalanan mendalam untuk mengenali dan mensyukuri setiap pemberian Allah dalam hidup kita, yang pada akhirnya membawa kita pada keadaan penuh rohmat atau kasih sayang.

Reputasi Allah sebagai Maha Pemberi tidak hanya terbatas pada nikmat-nikmat duniawi seperti rezeki dan kesehatan, tetapi juga mencakup nikmat-nikmat rohani yang kadang kala tidak kita sadari. Allah memberi kita kesempatan untuk hidup, belajar, dan berkembang. Dia memberi kita kekuatan dalam menghadapi cobaan dan memberikan petunjuk dalam bentuk wahyu dan inspirasi. Dengan menyaksikan dan merenungkan segala pemberian ini, kita diingatkan akan kehadiran dan kasih sayang Allah yang tiada henti.

Salah satu tokoh nasional yang sering kali menyampaikan pesan tentang pentingnya bersyukur dan mengakui kebesaran Allah adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Dalam ajarannya, KH. Ahmad Dahlan selalu menekankan pentingnya tauhid, yaitu pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang harus kita sembah dan puji. Beliau mengatakan, “Hidupkanlah dirimu dengan selalu mengingat Allah, karena dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang.” Pengakuan dan ingatan akan kebesaran dan pemberian Allah menuntun kita untuk selalu bersyukur dan hidup dalam kasih sayang-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesibukan dan rutinitas yang membuat kita lupa untuk menyaksikan dan mensyukuri pemberian Allah. Padahal, setiap detik dalam hidup kita dipenuhi dengan nikmat-Nya. Mulai dari hal-hal kecil seperti udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga nikmat besar seperti keluarga dan teman-teman yang menyayangi kita. Dengan menyadari dan mensyukuri setiap nikmat ini, hati kita akan dipenuhi dengan rohmat atau kasih sayang yang tulus.

KH. Ahmad Dahlan juga mengajarkan bahwa bersyukur atas pemberian Allah tidak hanya dilakukan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata. Beliau mengatakan, “Amal itu bukanlah sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan.” Oleh karena itu, mensyukuri nikmat Allah berarti kita harus menggunakan setiap pemberian-Nya dengan sebaik-baiknya dan untuk tujuan yang baik. Misalnya, menggunakan ilmu yang kita miliki untuk membantu orang lain, menggunakan waktu kita untuk berbuat baik, dan menggunakan harta kita untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Melalui tindakan nyata ini, kita tidak hanya menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, tetapi juga menyebarkan rohmat kepada sesama manusia. Dalam Islam, konsep ini dikenal dengan istilah “rahmatan lil alamin” yang berarti menjadi rahmat bagi seluruh alam. Artinya, setiap muslim diharapkan dapat menjadi sumber kasih sayang dan kebaikan bagi seluruh makhluk Allah di muka bumi. Dengan menyaksikan dan mensyukuri pemberian Allah, kita menjadi lebih sadar akan tanggung jawab kita untuk menyebarkan kasih sayang dan kebaikan ini.

Pentingnya menyaksikan dan mensyukuri kebesaran Allah juga ditegaskan oleh tokoh nasional lainnya, Buya Hamka. Beliau mengatakan, “Syukur itu adalah penutup nikmat yang ada, dan pembuka nikmat yang baru.” Syukur bukan hanya tentang mengucapkan terima kasih, tetapi juga tentang merasakan kebesaran dan kasih sayang Allah dalam hati kita, serta menggunakannya sebagai motivasi untuk berbuat baik. Dengan bersyukur, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan kita berkomitmen untuk menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Selain itu, Buya Hamka juga menekankan pentingnya kesabaran dalam menerima pemberian Allah, baik itu berupa nikmat maupun ujian. Beliau mengatakan, “Kehidupan adalah perjuangan. Barang siapa yang kuat dalam perjuangan, akan beroleh kebahagiaan.” Dalam konteks ini, menerima setiap pemberian Allah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan adalah bagian dari bersyukur. Kita harus menyadari bahwa setiap cobaan yang kita hadapi adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar, dan melalui cobaan tersebut, Allah mengajarkan kita untuk menjadi lebih kuat dan bijaksana.

Ketika kita mampu menyaksikan kebesaran Allah dalam setiap pemberian-Nya, kita akan merasakan kedamaian dan ketenangan yang mendalam. Hati kita akan dipenuhi dengan rohmat, yang membuat kita lebih sabar, ikhlas, dan penuh kasih sayang. Kita akan mampu melihat setiap situasi dari perspektif yang positif, dan merasa yakin bahwa Allah selalu bersama kita dalam setiap langkah kehidupan. Dalam keadaan ini, kita tidak hanya menjadi lebih dekat dengan Allah, tetapi juga mampu menyebarkan kasih sayang dan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.

Pada akhirnya, menyaksikan reputasi Allah sebagai Maha Pemberi adalah tentang mengakui kebesaran dan kasih sayang-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Dengan demikian, kita akan hidup dalam keadaan penuh rohmat, yang membuat kita lebih bersyukur, sabar, dan penuh kasih sayang. Kita akan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita, dan kita akan menggunakan setiap nikmat yang diberikan-Nya untuk berbuat kebaikan dan menyebarkan kasih sayang kepada sesama. Melalui perjalanan ini, kita tidak hanya menjadi hamba yang lebih baik, tetapi juga menjadi sumber rahmat bagi dunia ini, sebagaimana yang diajarkan oleh tokoh-tokoh besar seperti KH. Ahmad Dahlan dan Buya Hamka.

Rekomendasi