Biodata Ning Hafshah Lirboyo

Biodata Ning Hafshah Lirboyo - dawuh guru

Di tengah perkembangan dunia Islam yang semakin dinamis, terdapat sosok inspiratif yang patut diperhatikan, yakni Ning Hafshah al-Ahla, putri dari Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri, KH Abdullah Kafabihi Mahrus dan Nyai Hj. Azzah Noor Liala. Ning Hafshah dikenal memiliki keahlian khusus di bidang ilmu Al-Qur’an dan telah mengembangkan konsep dakwah yang unik, yakni mengajak anak muda muslim untuk memahami pentingnya sanad sampai Rasulullah SAW dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Sanad merupakan konsep yang sangat penting dalam tradisi Islam, khususnya dalam pembelajaran Al-Qur’an. Ini adalah rentetan guru yang pernah mengajar Al-Qur’an, di mana setiap guru memiliki sanad yang terhubung sampai kepada Rasulullah SAW. Ning Hafshah menekankan bahwa konsep sanad bukan sekadar sejarah, tetapi sebuah sarana penting untuk menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an.

Dalam pandangan Ning Hafshah, ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikatakan benar-benar membaca Al-Qur’an. Pertama, bacaan tersebut harus digurukan, yaitu diajarkan oleh guru yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW. Ini menunjukkan pentingnya belajar Al-Qur’an dari seseorang yang memiliki kredibilitas dan rantai pengajaran yang sah.

Kedua, menggunakan mushaf Rasm Usmani, yaitu mushaf yang tulisannya disepakati oleh para sahabat pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Penggunaan mushaf ini penting untuk memastikan bahwa teks yang dibaca sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh para sahabat sebagai representasi akurat dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, bacaan tersebut harus sesuai dengan nahwu sharaf, atau kaidah bahasa Arab. Ini menekankan pentingnya memahami bahasa Arab secara mendalam untuk memastikan bahwa bacaan Al-Qur’an dilakukan dengan benar dan sesuai dengan makna yang dimaksudkan.

Ning Hafshah percaya bahwa tanpa memenuhi ketiga syarat ini, seseorang tidak dapat dikatakan benar-benar membaca Al-Qur’an. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa adanya sanad bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga tentang tanggung jawab. Menurutnya, adanya sanad akan mempertanggungjawabkan bacaan seseorang di hari kiamat.

Baca Juga  Bu Nyai Nur Watucongol (Nyai Hj. Nur Hannah Hasanah)

Pentingnya sanad dalam pembelajaran Al-Qur’an terkait erat dengan konsep pembelajaran dalam Islam. Dalam tradisi Islam, pembelajaran tidak hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga transfer adab, moral, dan spiritualitas. Guru yang memiliki sanad bukan hanya mengajarkan teks, tetapi juga mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan teks tersebut secara spiritual dan moral.

Konsep sanad juga mengingatkan kita akan pentingnya penghormatan terhadap guru. Dalam tradisi Islam, guru dihormati tidak hanya karena pengetahuannya, tetapi juga karena posisinya dalam rantai pengetahuan yang menghubungkan seorang murid dengan generasi sebelumnya, termasuk para sahabat dan Rasulullah SAW. Dengan demikian, melalui sanad, seorang murid tidak hanya belajar tentang Al-Qur’an, tetapi juga tentang sejarah dan spiritualitas Islam.

Ning Hafshah al-Ahla, melalui dakwahnya, mengajak umat Islam, khususnya generasi muda, untuk kembali kepada cara belajar Al-Qur’an yang otentik. Ini tidak hanya tentang mempelajari teks, tetapi juga memahami konteks, sejarah, dan spiritualitas yang menyertainya. Dengan cara ini, pembelajaran Al-Qur’an menjadi lebih kaya dan mendalam.

Lebih dari itu, konsep sanad juga membantu menjaga kemurnian Al-Qur’an dari distorsi atau kesalahan interpretasi. Dalam era di mana informasi mudah diakses tetapi seringkali tidak diverifikasi, pentingnya belajar dari sumber yang terpercaya menjadi semakin relevan. Sanad menawarkan jaminan bahwa apa yang diajarkan telah melalui proses verifikasi dan validasi yang ketat sepanjang sejarah Islam.

Konsep dakwah Ning Hafshah ini juga mencerminkan pentingnya peran perempuan dalam sejarah dan pengembangan ilmu Islam. Seperti yang tercatat dalam sejarah, banyak ulama perempuan yang telah memberikan kontribusi signifikan, mulai dari cicit Nabi Muhammad SAW hingga guru dari Imam Syafi’i. Ning Hafshah al-Ahla meneruskan tradisi intelektual perempuan dalam Islam, menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan spiritualitas tidak mengenal gender.

Baca Juga  Jejak Emansipasi Nyai Khoiriyah Hasyim dari Tanah Sendiri sampai Tanah Suci

Melalui dakwah dan pengajaran Ning Hafshah al-Ahla, kita diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai dasar dalam belajar Al-Qur’an. Tidak hanya sekadar membaca teks, tetapi juga memahami, menghayati, dan menjalankan pesan-pesannya. Ini adalah proses yang membutuhkan dedikasi, kerendahan hati, dan kesabaran, serta pengakuan akan pentingnya guru dan tradisi dalam pembelajaran.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan dari Ning Hafshah al-Ahla mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga tradisi dan keotentikan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam pembelajaran agama. Dalam dunia yang serba cepat dan sering kali mengabaikan kedalaman, pesan ini menjadi semakin relevan dan penting.

Mengakhiri, dakwah Ning Hafshah al-Ahla membawa kita kembali ke esensi pembelajaran Al-Qur’an yang sejati. Melalui pemahaman dan praktik yang benar, kita tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya panduan yang menerangi jalan kita. Ini adalah perjalanan yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga jiwa, menghubungkan kita dengan generasi umat Islam yang telah berlalu dan menginspirasi generasi yang akan datang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *