Bimtek PPIH 2024 Upaya Kementerian Agama ‘Melahirkan’ Uwais Al-Qarni di Jaman Modern

BIMTEK PPIH 2024 UPAYA KEMENTERIAN AGAMA ‘MELAHIRKAN’ UWAIS AL-QARNI DI JAMAN MODERN

Oleh : Mujahidin Nur, Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri & Antar Lembaga BKM (Badan Kesejahteraan Masjid)

“Sesungguhnya aku merasakan nafas Ar Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman !” (Hadis)

Apabila Anda mendengar Tagline Haji Kementerian Agama ; Haji Ramah Lansia. Mungkin saja pikiran Anda akan membayangkan perjalanan haji sosok seorang perempuan renta (lansia) yang lumpuh lagi buta di masa Rasulullah; ibunda Uwais al-Qarni. Perjuangan Uwais al-Qarni menunaikan keinginan terakhir ibundanya –sebelum menutup usia– menunaikan ibadah haji dengan cara digendong adalah contoh paling ideal petugas PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) yang pernah ada di dunia ini.

Dalam konteks ini (melahirkan petugas PPIH ideal) kementerian Agama Republik Indonesia sesuai dengan Permen No. 13 tahun 2021 berupaya melakukan seleksi secara terbuka, akuntabel dan profesional para calon petugas PPIH 2024. Menurut informasi dari Dr. Arsad Hidayat, Direktur Bina Haji Kementrian Agama sedikitnya 30.000 peserta seleksi yang mendaftarkan diri dari seluruh Indonesia. Dari 33.000 peserta itu terjaring 6.7% atau sekitar 2.300 calon petugas PPIH Arab Saudi 2024.

Mereka yang terpilih kemudian mendapatkan pelatihan BIMTEK (Bimbingan Tekhnis) di Asrama Haji Pondok Gede selama 10 hari lamanya. Berbagai materi disampaikan dalam BIMTEK PPIH 2024; Manasik Haji Bagi Petugas PPIH, Kebijakan Layanan Kesehatan Haji, Learning dan Building Service Commitment, Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama dan lain lain. Segala upaya yang dilakukan oleh Kementerian Agama tersebut dilakukan dalam rangka melayani tamu Allah secara maksimal. Disamping, hal tersebut diharapkan mampu melahirkan calon petugas-petugas haji yang mempunyai profesionalisme, spirit dan perjuangan sebagaimana spirit, profesionalisme dan perjuangan Uwais bin Amir al-Qarni atau lebih dikenal dengan sebutan Uwais al-Qarni.

Uwais al-Qarni, seorang laki-laki mulia dari Kabilah Murod dari Qarni yang disabdakan rasulullah sebagai laki-laki yang diijabah doa-doanya (makbul) oleh Allah sehingga rasulullah menyuruh kedua orang sahabat terdekatnya; Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari dan didoakan olehnya. Rasulullah bersabda, “ Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdoa (memintakan ampunan) untuk kamu berdua.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam buku The Life and Time of Uwais al-Qarni karya Moeneba Slamang dan Shakira Hussein, dikisahkan Uwais al-Qarni merupakan salah seorang tabi’in yang unknown on earth famous in the sky (tidak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit). Meskipun tidak pernah bertemu, Rasulullah SAW mengetahui latar belakang Uwais al-Qarni. Baginda Nabi Muhammad SAW sering memuji ketakwaan pemuda Yaman tersebut di hadapan para sahabat. Rasulullah bahkan menasihati Umar bin Khattab agar meminta doa dari Uwais andai nanti kedua orang sahabatnya tersebut bertemu dengannya.

Uwais al-Qarni sejak kecil menjaga ibunya yang lumpuh dan buta. Sehari-harinya, Uwais bekerja sebagai gembala domba tetangganya. Pendapatan yang diperolehnya dari menggembala kambing hanya cukup untuk menyediakan makanan ibunya setiap hari. Sesekali, ketika Uwais ada kelebihan rezeki, ia akan membantu tetangganya yang kurang mampu. Uwais terkenal sebagai seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Selain itu, ia juga rajin berpuasa di siang hari dan bermunajat di malam hari.

Pada suatu ketika, Uwais merasakan kesedihan setiap melihat tetangganya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW. Ia rindu ingin mendengar suara Nabi Muhammad SAW. Kerinduannya karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Karena kerinduannya pada nabi dia kemudian dijuluki al-Asheek Ila Rosul (Sang Perindu Rasulullah).

Besarnya kerinduan Uwais pada Rasulullah membuat ia tidak kuat. Suatu hari, Uwais mendekati ibunya untuk berbagi isi hatinya dan memohon izin untuk pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Ibunya pun merasa iba dengan kerinduan anaknya dan mengijinkannya untuk bertemu dengan Rasulullah. Namun sayang, saat tiba di rumah Rasulullah SAW, ia hanya bertemu dengan Sayyidatina Aisyah RA. Sementara itu, ia teringat pesan ibunya agar segera pulang ke Yaman. Akhirnya, karena ketaatannya pada ibunya, pesan tersebut mengalahkan keinginannya untuk menunggu dan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.

Setelah kembali dari pertempuran, Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidatina Aisyah RA tentang seseorang yang mencarinya. Sayyidatina Aisyah RA menjelaskan bahwa ada yang mencarinya, tetapi orang tersebut pergi ke Yaman karena ibunya sakit dan butuh perhatian.

Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa seseorang itu adalah penghuni langit. Beliau memberitahu para sahabatnya, “Jika kalian ingin bertemu dengannya, perhatikanlah tanda putih di tengah telapak tangannya.” Nabi juga menyarankan para sahabatnya agar saat berjumpa dengan Uwais, “Jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan istighfar (ampunan), karena dia berasal dari langit, bukan bumi.”

BIMTEK HAJI RAMAH LANSIA ALA UWAIS AL QARNI

Sebagaimana ditulis dalam buku Uwais al-Qarni : Sayidu al-Tabi’in Wa Alima al-Asfiya karya Duktur Abdul Bari Mahmud Dawud, dikisahkan ketika ibu Uwais yang sudah tua sangat ingin sekali pergi haji dengan nada berat ibunya berkata kepada Uwais, “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas dan gersang. Orang-orang yang melakukan perjalanan haji biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Namun, Uwais al-Qarni berpikir keras bagaimana caranya untuk mengabulkan keinginan ibunya itu.

Uwais merasa berat untuk memenuhi keinginan sang Ibu. Dari Yaman, perjalanan ke Makkah sangatlah jauh. Melewati padang tandus yang gersang dan panas. Orang-orang yang pergi ke Makkah biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Uwais terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar ibunya bisa berangkat ke Tanah Suci.

Terpikirlah oleh Uwais untuk melakukan latihan menggendong ibunya atau dalam bahasa Kementerian Agama bisa dikatakan sebagai bimbingan tekhnis PPIH Ramah Lansia. Uwais pun membeli seekor anak lembu dan membuat kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yang menganggap aneh tindakan Uwais tersebut. Bahkan ada juga yang menyebut Uwais sudah gila.

Sesudah 8 bulan melakukan bimbingan tekhnis latihan menggendong lansia dengan cara menggendong lembu sampai berat anak lembut tersebut mencapai 100 kilogram.

Musim haji pun tiba, Uwais merasa otot-ototnya sudah kuat dan siap mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang Ibu dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Apabila diukur dalam hitungan Kilo Meter. Jarak tempuh dari Yaman ke Makkah itu sekitar 1.119 KM. Sebuah jarak tempuh yang sangat panjang dan melelahkan. Jarak ini hampir sama dengan jarak tempuh dari Pelabuhan Merak Banten menuju Pelabuhan Banyuwangi, Jawa Timur.

Di tanah suci, Uwais al Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thawaf di Ka’bah. Di depan Kakbah air mata sang Ibu tumpah. Uwais pun berdoa, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu.”

Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Dalam Syarah Bukhari dan Muslim, Taisir al-Allam Syarah Umdah al-Ahkam karya Imam Nawawi beliau menuliskan beberapa mutiara hikmah yang perlu diteladani dari perjalanan hidup Uwais al-Qarnie diantaranya ;
Pertama, kisah Uwais mengajarkan kepada kita mengenai mukjizat Rasulullah Saw. Beliau tidak pernah sama sekali bertemu dengan Uwais al-Qarnie namun nabi Muhamad mengetahui semua dengan detail mengenai Uwais termasuk posisinya di hadapan Allah Swt.

Kedua, Uwais mengajarkan kepada kita ketawadhuan luar biasa sebagai hiasan terindah dalam hidupnya. Sehingga tidak ada satu pun yang mengetahui keistimewaan dirinya di hadapan Allah Swt. Bahkan karena ketawadhuanya beliau sering direndahkan oleh orang lain karena ketidak tahuan mereka mengenai kemuliaan dan keistimewaan Uwais al-Qarnie.

Ketiga, perintah Rasulullah kepada Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib untuk meminta doa kepada Uwais al-Qarnie menunjukkan keutamaan meminta didoakan oleh orang-orang saleh walaupun posisi orang saleh tersebut di hadapan manusia lebih rendah dari yang meminta doa kepadanya.

Keempat, kisah Uwais al-Qarnie merupakan kisah sempurna bentuk ketaatan seorang anak kepada orangtuanya. Ketaatan tiada batas. Kesabaran maha sempurna. Serta bentuk keikhlasan bak mutiara. Berbakti kepada orangtua semata-mata karena Allah, sehingga sampai pada level keyakinan bahwa keridhoaan orangtua merupakan pintu menuju surgaNya.

Terakhir, Uwais al-Qarnie memberikan pesan kepada para petugas haji di seluruh dunia termasuk PPIH Arab Saudi 2024 Indonesia bahwa kunci kesuksesan menjadi seorang petugas haji adalah niat, kesabaran, keikhlasan dan berharap pahal surga dari Allah Swt. Disamping, para petugas PPIH Arab Saudi 2024 harus mampu menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang pada para jamaah haji lansia dengan menjadikan mereka (para jamaah haji lansia) seperti pesan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas seakan-akan mereka adalah keluarga kita sendiri di tanah suci; para jamaah lansia adalah ibu, ayah, paman atau bibi, kakak, adik atau karib kerabat kita di tanah yang disucikan oleh Allah Swt.

Apabila para petugas haji, utamanya Petugas PPIH 2024 mampu mengambil semangat dan inspirasi dari Uwais al-Qarnie dan mampu menerjemahkan pesan yang disampaikan oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas dalam melayani jamaah lansia di tanah suci maka bukanlah mimpi apabila BIMTEK yang dilakukan oleh kementerian agama akan mampu melahirkan Uwais al-Qarnie-Uwais al-Qarnie modern yang melaksanakan tugas mereka dengan semangat keikhlasan, kezuhudan, kesabaran dan ketulusan dengan mengambil semangat atau inspirasi Uwais Al-Qarnie.

Apabila para tamu Allah (para jamaah lansia) yang kita bantu ini mendapatkan haji-haji mabrur, maka para petugas PPIH 2024 inshallah akan mendapatkan pahala ibadah haji dan pahala kemabruran sebagaimana yang didapatkan para jamaah lansia ini. Kiranya cukuplah doa mereka para pemilik haji mabrur yang akan mengantarkan kita pada pahala, maghfirah (ampunan) dan surga Allah Swt sebagaimana harum semerbak doa Uwais al-Qarni di hadapan Baitullah al-Haram agar ibunya mendapatkan haji mabrur dan diampuni segala dosa-dosanya. Baginya, cukup keridhoan orangtuanya sebagai pengantar dirinya untuk mendapatkan surga Allah Swt dan merasakan nafas indah nan suci ar-Rahman. Wallahu ‘Alam. *

Rekomendasi