Bertamasya ke Neraka

Kolom Jumat Damhuri Muhammad - Dawuh Guru

Penulis: DAMHURI MUHAMMAD

Tatkala Longfellow, Lowell, Holmes dan Fields sedang menerjemahkan Divina Commedia, karya Dante Alighieri (1265-1321) dengan pena, di tempat lain, entah di mana, seseorang tak dikenal juga sedang berikhtiar dengan kesibukan yang sama. Hanya saja, sosok misterius itu tidak menggunakan pena sebagaimana para anggota komunitas bernama Klub Dante tersebut, tapi mengejawantahkan pengalaman bertamasya ke neraka hasil rekaan penyair Italia itu dengan darah. Banyak kepustakaan menjelaskan bahwa lahirnya Divina Commedia di tangan Dante, dipicu oleh ketertarikan penulis besar itu pada kisah perjalanan Muhammad SAW ke alam neraka (di mana ia menyaksikan bentuk-bentuk hukuman bagi para pendosa di sana) dalam peristiwa Isra’Mi’raj, yang hingga kini diperingati setiap tanggal 27 Rajab.

Dikisahkan, A.P Healey (Hakim Tinggi di Massachusetts) tewas mengenaskan di tepi sungai Charles. Korban ditemukan dalam keadaan bertelanjang. Lalat dan belatung menggerogoti jasadnya. Lalu, ada setumpuk pakaian terlipat rapi dan sebuah bendera putih tertancap tak jauh dari mayat korban. Itu bukan modus pembunuhan yang biasa di wilayah Boston, utamanya selepas perang saudara. Saat polisi mengusut kasus itu, para anggota Klub Dante diam-diam juga berusaha menyingkap selubung misteri. Mereka menduga, kematian tragik  Healey mirip dengan hukuman Pontius Pilatus, pendosa yang dikisahkan dalam Inferno (bagian penting dari Divina Commedia, tentang siksaan bagi para pendosa di neraka). Dante menyebut dosa Pontius sebagai gran rifuto (penolakan keras) untuk ketegasan mendukung atau menghentikan penyaliban  Juru Selamat. Sama halnya dengan apa yang dilakukan Healey ketika ia diminta menolak Undang-undang Pelarian Budak. Ia tidak berbuat apa-apa. Hakim tinggi itu malah mengembalikan budak pelarian (bernama Thomas Sims) pada majikannya di Savannah, tempat ia kemudian dicambuk dan diarak keliling kota. “Bukan wewenang saya membatalkan Undang-undang bikinan kongres itu,” begitu Healey berdalih. Itulah sebabnya ia terpilih sebagai penerima contrapasso (hukuman pendosa) yang dieksekusi oleh seseorang, yang entah siapa. Eksekutor itu bagai telah menciptakan neraka, jauh sebelum hari kiamat tiba.

Baca Juga  Berners Lee, Blake Ross, dan Algoritma Medsos

Rahasia di balik pembunuhan keji itu sedapat-dapatnya terjaga, tidak boleh bocor pada siapapun. Bila kabarnya tersebar, risikonya akan fatal bagi masa depan Dante di Amerika. Tentu kebijakan August Manning (bendaharawan korporasi Univeristas Harvard) perihal larangan  atas proyek penerjemahan karya Dante semakin kokoh. Disebut-sebut, Mannning pernah mengancam akan membatalkan semua kontrak penerbitan buku antara Universitas Harvard dengan Ticknor & Fields milik J.T Fields (salah satu anggota Klub Dante) bila tetap menerbitkan versi terjemahan Divina Commedia yang dituduhnya mengusung ambisi politik murahan, dan kalau dibiarkan beredar akan menjadi racun Eropa berkedok sastra.

Kecemasan akan citra buruk Dante berjalan seiring dengan meluap-luapnya semangat anggota Klub Dante (hendak memperkenalkan magnum opus penyair kelahiran Fiorentina itu di jagad sastra Amerika), menjadi mata air ketegangan yang nyaris tak berujung dalam novel  Dante Club (2005) karya Matttew Pearl. Belum terungkap misteri kematian Healey, pengarang sudah menyuguhkan keterkejutan baru dengan peristiwa pembunuhan pendeta bernama Elisha Talbot, yang jauh lebih sadis. Korban dikubur hidup-hidup. Kepalanya dibenamkan ke dalam lubang, sementara kakinya dibiarkan menjulur ke atas. Api membakar tumit hingga ujung jarinya. Saat ditemukan, kaki korban masih menendang-nendang karena kesakitan, hingga dagingnya meleleh akibat luka bakar. Lagi-lagi, ada pesan ganjil yang ditinggalkan pelaku perbuatan biadab itu. Korban dalam keadaan telanjang, tapi ada seonggok pakaian terlipat rapi di dekat mayat. Koran-koran di Boston dan Cambridge sibuk memberitakan kematian yang mengerikan itu, sementara penyelidikan polisi belum menghasilkan apa-apa. Sekali lagi para penyair Boston (Longfellow, Lowell, dan Holmes) turun tangan mengidentifikasi pelaku pembunuhan sadis itu. Berkat kegeniusan Holmes, Klub Dante berkesimpulan, kematian Talbot mirip dengan hukuman bagi Simoniac (pendeta korup yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan) dalam Inferno. Hukuman (contrapasso) bagi pendosa macam itu adalah dai calcagni a le punte (api membakar tumit hingga ujung jari).

Baca Juga  Manusia Plastik

Sebagian besar karakter dalam Dante Club tidaklah fiktif.  H.W Longfellow (1807-1882) adalah penyair Amerika abad 19 yang paling disegani. Ia menerjemahkan Divina Commedia untuk menenangkan diri setelah kematian istrinya. Lalu, teman-teman, dan para koleganya bergabung dalam proyek prestisius yang tak disambut ramah oleh kalangan birokrat Harvard itu. Akhirnya terbentuklah kelompok yang mereka sebut; Klub Dante. Di dalamnya termasuk penyair dan guru besar Universitas Harvard, J.R Lowell (1819-1891), penyair dan guru besar kedokteran O.W Holmes (1809-1894), penyair dan pemilik penerbit J.T Fields. Setiap rabu malam mereka berkumpul di rumah Longfellow di Cambridge (sampai sekarang masih dapat dikunjungi). Inilah cikal bakal terbentuknya Masyarakat Dante Amerika (1881). Namun, Matthew Pearl membangun semacam lingkaran  kekacauan yang tak terduga. Kerumitan dan kompleksitas ketegangan yang dirancangnya mengakibatkan hilangnya batas antara fakta dan fiksi.

Berkali-kali pengarang menyesatkan pembaca dengan menghadirkan tokoh Grifone Lonza (imigran Italia yang terobsesi pada Dante), Pietro Bachi (mantan dosen bahasa Italia di Harvard, yang dipecat secara tidak hormat) dan Burndy (pembobol brankas kelas kakap di Boston). Seolah-olah dapat dipastikan, bahwa salah satu dari mereka adalah pembunuh berdarah dingin itu. Padahal, si pembunuh tak ada di sana. Para anggota Klub Dante pun terkecoh. Pelaku ternyata lebih dekat dari yang mereka bayangkan.

Lewat Dante Club, Matthew Pearl memicu rasa ingin tahu sedalam-dalamnya, menjerumuskan pembaca ke lorong ketertarikan tak berujung, hingga tak bakal beranjak dari duduk sebelum benar-benar tuntas membacanya. Namun, mengingat pembunuhan keji terhadap Healey, Talbot dan Jennison (korban terakhir) yang terinspirasi oleh Divina Commedia, tetap saja menimbulkan tanda tanya. Dapatkah teks sastra dipersalahkan? Apakah kasus-kasus pembunuhan dalam Dante Club benar-benar dipicu oleh brutalitas dalam Inferno, atau brutalitas pembunuh itu sendiri?  Ini tak mungkin terjawab. Sementara para penikmat novel thriller kian terpanggil untuk mengikuti “tamasya neraka” dalam The Divine Comedy. Siapa tahu, mereka dapat menemukan contrapasso gaya baru, sebagai “ilham”  bagi rencana pembunuhan selanjutnya….   

DAMHURI MUHAMMAD

Baca Juga  Jawed Karim, YouTube  dan Didikan Keluarga Muslim

Kolumnis

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *