Analisis Hubungan antara Qira’ah Al-Sab’ah dengan Sab’ah Ahruf

Analisis Hubungan antara Qira’ah Al-Sab’ah dengan Sab’ah Ahruf - Dawuh Guru

Oleh: Siti Khumairoh

Keberadaan al-Qur’an di tengah-tengah umat Islam dan keinginan mereka untuk memahami petunjuk-petunjuk dan mukjizat-mikjizatnya telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu keislaman yang dimulai dengan lahirnya kaidah-kaidah bahsa Arab, ilmu rasm, qira’at sampai lahirnya ilmu fiqh dan bahkan juga melahirkan berbagai macam ilmu al-Qur’an yang jumlahnya tidak sedikit. Redaksi ayat-ayat al-Qur’an tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi sendiri sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis. Hal tersebut yang kemudian dapat menimbulkan keanekaragaman dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, para sahabat pun juga tidak jarang berbeda pendapat atau bahkan keliru dalam memahami maksud dari firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca, meski mereka mengetahui dan menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteks, dan bahkan mengetahui secara alamiah struktur bahasa dan arti kosa katanya. Pada sejarahnya, perbedaan qira’at mulai Nampak pada tahun 8 H. setelah fath Makkah, ketika banyak sekali kabilah-kabilah Arab yang memeluk Islam. Dalam perkembangannya, wacana kajian seputar ilmu al-Qira’at yang sengit diperselisihkan adalah sebuah hadis

إِنَّ هَذَا القُرْانَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

Artinya: Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan mudah (bagimu) diantaranya. H.R. Bukhari dan Muslim

Walaupun sesungguhnya hadis ini jelas sahih dengan Riwayat yang tergolong mutawatir dan disaksikan banyak sahabat atas kebenarannya, namun secara global hadis ini banyak menimbulkan kontroversi mengenai maksud dan keberadaannya.

Pengertian Qira’ah al-Sab’ah

Kata qira’ah berasal dari kata qara’ah dengan akar kata ﻕ, ﺭ, أ (qaf’ ra dan alif hamzah). Qira’ah dalam bahasa Arab berbentuk Masdar dari kata qara’ayaqra’uqira’atan yang bermakna membaca, bacaan. Pengertian qira’ah secara etimologis adalah mengumpulkan dan menghimpun, yaitu menghimpun huruf-huruf dan diucapkan sekaligus, dalam bahasa Indonesia diartikan dengan membaca, beberapa pembacaan. Sedangkan pengertian secara terminology, terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan para ulama’, salah satunya yaitu Imam al-Zarqani dalam manahil al-Irfan. Beliau mengemukakan bahwa qira’at adalah perbedaan lafaz wahyu (al-Qur’an), dalam hal penulisan huruf-huruf tersebut, baik secara takhfif (dibaca tipis), tasqil (tebal) dan sebagainya.

Baca Juga  Konsep I’jaz dalam Perspektif Ilmu Qur’an

Dalam ulum al-Qur’an, Qira’at adalah beberapa cara dalam mengucapkan kalimat-kalimat yang terdapat dalam al-Qur’an. Cara-cara tersebut menurut Riwayat banyak dikemukakan, namun yang masyhur adalah qira’at yang populer dengan istilah Qira’at al-Sab’ah. Yaitu, Qira’ah ‘Abdullah ibn kasir, Qira’ah nafi’ ibn ‘Abd al-Rahman ibn Abi Nua’im, Qira’ah ‘Abdullah ibn ‘Amru ibn Yazid ibn Tamim ibn Rabi’ah al-Yahsubi, Qira’ah Abu ‘Amru ibn al-‘Ala ibn ‘Ammar ibn ‘Abdillah al-Basri, Qira’ah Asim ibn Abi al-Nujud Abu Bakr al-Asadi al-Kufi, Qira’ah Hamzah ibn Habib ibn ‘Umarah ibn ‘Ismail al-Zayyat al-Timi, Qira’ah al-Kisa’I Abu ‘Ali ibn Hamzah al-Asadi.

Pada pengertian sab’ah, makki mengatakan sebagaimana ditulis oleh al-Zarkasyi bahwa maksud dari kata tujuh (Sab’ah) adalah; pertama, bahwa ‘Usman telah menyalin dalam tujuh mushaf dan diedarkan ke beberapa kota, maka sejumlah qurra’ menjadikannya sejumlah dengan mushaf yang tersebar tersebut. Kedua, para qurra’ menjadikan sejumlah huruf yang diturunkan al-Qur’an yaitu tujuh.

Jadi, pengertian dari Qira’ah al-Sab’ah adalah tujuh macam cara atau mazhab dalam mengucapkan kalimat-kalimat yang ada dalam al-Qur’an, yang telah ditetapkan oleh para imam ahli qurra’ dengan sanad yang kokoh kepada Rasulullah saw dan berbeda dengan mazhab yang lain.

Pengertian sab’ah Ahruf

Menurut al-Zarqani, kata sab’ah (tujuh) dalam hadis adalah menunjukkan jumlah, yaitu angka tujuh yang terletak antara angka enam dan delapan, bukan menunjukkan makna yang banyak. Sedangkan kata Ahruf adalah bentuk jamak dari huruf, penggunaan kata ini ditemukan dalam berbagai bentuk pengguna. Misalnya berarti bahasa, tepi, ujung, batas, bentuk ayat, salah satu huruf hijaiyah.

Namun, dalam hal ini Muhammad ibn Sa’dan berpendapat bahwa kata Ahruf bermakna lahjah (dialek). Ulama lain menafsirkan kata Ahruf dengan ragam bacaan. Artinya bahwa al-Qur’an mengakomodir tujuh ragam bacaan di dalamnya. Namun bukan berarti setiap kata atau ayat dibaca dengan tujuh ragam bacaan. Akan tetapi, seluruh perbedaan yang terdapat dalam tata cara membac al-Qur’an itu tidak keluar dari tujuh ragam.

Baca Juga  Faedah Mempelajari Al-Qur’an dengan Mengimplementasikan Metode Amtsal

Adapun pandangan subhi al-Salih, bahwa Sab’ah Ahruf adalah tujuh macam cara yang diberikan kelapangan (kemudahan) bagi umat Islam untuk membaca al-Qur’an. Maka dengan cara mana pun diabaca seorang qari’ adalah benar.

Hubungan antara Qira’ah al-sab’ah dengan Sab’ah Ahruf

Setelah memahami pengertian antara Qira’ah al-Sab’ah dan Sab’ah Ahruf, dapat dikatakan bahwa hubungan antara keduanya seperti rumah dengan kamar. Ahruf ibarat rumah dan Qira’at ibarat kamar. Bagaimana pun banyaknya qira’at yang ada, keseluruhannya berada dalam lingkup Ahruf. Namun tidak semua Ahruf itu terdapat dalam satu qira’at, adakalanya huruf tertentu disebutkan dalam satu qira’at dan tidak disebutkan qira’at lainnya.

Oleh karena itu, tidaklah sahih persangkaan sebagian orang awam bahwa Sab’ah Ahruf adalah Qira’at al-Sab’ah. Sebab jika yang dimaksud Ahruf adalah Qira’at, berarti qira’at-qira’at lain di luar tujuh qira’at tersebut tidak termasuk al-Qur’an. Padahal sudah diketahui di kalangan ulama bahwa qira’at yang dianggap sebagai al-Qur’an bukan hanya tujuh saja, tapi sepuluh (ditambah Qira’at Abu Ja’far, Ya’qub dan Khaaf Al-‘Asyir). Ada juga pandangan sebagian ahli fiqih yang mengatakan bahwa qira’at lain di luar Qira’ah al-Sab’ah tidak boleh dibaca di dalam shalat karena ke-mutawatirannya masih diperselisihkan, namun pendapat tersebut adalah sebagai Langkah kehati-hatian saja dan agar orang awam tidak kebingungan dengan bacaan-bacaan yang masih asing di telinga mereka sehingga dapat menimbulkan fitnah (kekacauan).

Hubungan antara Qira’ah al-Sab’ah dengan Sab’ah Ahruf ialah seperti rumah dengan kamar. Ahruf ibarat rumah dan Qira’at ibarat kamar. Bagaimana pun banyaknya qira’at yang ada, keseluruhannya berada dalam lingkup Ahruf. Namun tidak semua Ahruf itu terdapat dalam satu qira’at, adakalanya huruf tertentu disebutkan dalam satu qira’at dan tidak disebutkan qira’at lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *