Opini  

Ali Adhim: Revolusi Literasi Digital, dari Kegelapan Menuju Cahaya

Ali Adhim: Revolusi Literasi Digital, dari Kegelapan Menuju Cahaya

Literasi digital merupakan sebuah konsep yang telah mendapatkan perhatian signifikan dalam era modern. Menurut Ali Adhim, pemilik Dawuh Guru, literasi digital harus bersifat revolusioner, tidak hanya sebatas menafsirkan kenyataan, tetapi juga mampu mengubahnya. Pandangan ini mendapatkan resonansi yang kuat dengan pemikiran Thomas Bartholin, seorang teolog Denmark dari abad ke-17, yang menekankan pentingnya literasi dalam berbagai aspek kehidupan.

Ali Adhim menyatakan bahwa literasi digital bisa merubah keadaan, mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman), mengacu pada ayat Surat Al-Baqarah Ayat 257 yang berbunyi “مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ”. Ayat ini secara simbolis menggambarkan transisi dari ketidaktahuan dan kebingungan menuju pencerahan dan kejernihan. Dalam konteks ini, literasi digital dianggap sebagai katalis yang memungkinkan peralihan tersebut.

Thomas Bartholin, empat abad yang lalu, sudah menekankan pentingnya literasi. Menurutnya, tanpa literasi, Tuhan diam, keadilan terbenam, sains macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan. Pernyataan ini menggambarkan betapa literasi adalah kunci untuk memahami dan menginterpretasikan berbagai aspek dalam kehidupan, termasuk agama, hukum, sains, dan seni.

Dalam era digital saat ini, literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis dalam bentuk tradisional, tetapi juga meliputi kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan melalui berbagai platform digital. Dengan literasi digital, kepribadian seseorang serta struktur sosial dapat terbentuk dan berkembang. Lebih lanjut, literasi digital juga berperan penting dalam pembentukan dan perkembangan peradaban suatu bangsa.

Revolusi literasi digital, seperti yang disuarakan oleh Ali Adhim dan Thomas Bartholin, bukan hanya tentang penguasaan teknologi, tetapi lebih pada pemanfaatannya untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam, keadilan, kemajuan ilmiah, ekspresi seni, dan pembentukan identitas serta peradaban. Literasi digital menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, memungkinkan kita untuk belajar dari sejarah sambil beradaptasi dan berkembang dalam dunia yang terus berubah.

Baca Juga  Tradisi Ulang Tahun; dari Kado Kue, Lempar Tepung, Hingga Buku Kumpulan Puisi

Dengan mengadopsi pendekatan revolusioner terhadap literasi digital, kita dapat bergerak dari kegelapan menuju cahaya, membuka jalan bagi pencerahan intelektual dan spiritual yang lebih luas bagi masyarakat di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *